›› Lamunan hari ini

Mengapa Open Source bukan Free Software ?

Sering saya ditanya oleh rekan-rekan, mengapa saya seperti berkesan lebih berpihak pada gerakan Open Source ketimbang Free Software dalam kegiatan sosialisasi di Indonesia? Sebab dalam berbagai kesempatan saya relatif lebih sering dan lebih suka menggunakan issue Open Source ketimbang Freeware yang diusung FSF, boss-nya, Richard Stallman yang baru saja datang ke Indonesia. Begitu juga sering pertanyaan mengapa sepertinya hanya GNU/Linux saja yang sering saya sosialisasikan bukan seperti FreeBSD.

Sebetulnya alasan itu lebih sangat disebabkan situasi di Indonesia. Bukan karena masalah ideologi, ataupun filosofi. Dengan kata lain lebih bersifat pragmatis. Kata bebas atau free dalam masyarakat Indonesia memiliki suatu konotasi yang agak berbahaya. Seringkali di Indonesia kata bebas dikaitkan dengan tanpa aturan dengan kata lain bebas-sebebasnya seenak udel-nya sendiri. Misal Freeman yang menjadi preman yang berkonotasi negatif sebagai orang nongkrong bebas tidak ada aturan dan kerjanya memalak orang. Perihal terminologi bebas atau tak berlisensi ini juga menimpa hal lain, misal dalam hal penggunaan 2,4 GHz, yang dianggap frekuensi bebas sebebas-bebasnya karena ada istilah unlicensed frequency).

Padahal Free Software sendiri bukan berarti bebas-sebebasnya tanpa aturan seperti yang banyak dibayangkan orang di Indonesia. Walau program Free Software bebas disalin, dimodifikasi dan disebarkan, tetapi tetap ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengguna ataupun pengembangnya. Persyaratan tersebut tertuang dalam lisensi yang digunakan oleh Free Software. Jadi bukan berarti Free Software tak berlisensi. Konyolnya lagi, kebebasan memperoleh perangkat lunak Free Software ini sering selalu dikaitkan dengan gratis. Bahkan timbul kesalah-pahaman bahwa, layanan yang diberikan dengan menggunakan Free Software itu tak boleh dibisniskan, alias harus selalu gratis. Ini yang sering menyebabkan pengadopsian Free Software dalam suatu model bisnis yang dapat diterima menjadi sulit. Misal rekan-rekan yang menjual CDROM berisi GNU/Linux GPL dianggap juga membajak dan tidak etis (padahal yang dilakukan adah menjual layanan penyalinan dan menjual media CDROM itu). Ataupun ketika ada penawaran pelatihan program Free Software dengan harga tertentu dianggap tidak etis, karena diharapkan juga gratis.

Karena kondisi yang ada di lapangan seperti itulah, membuat saya lebih menyukai penggunaan kata seperti yang digunakan di Prancis, yaitu Libre yang lebih mendekati kepada arti kata Merdeka. Istilah Open Source sendiri lebih aman dan lebih netral dalam konteks Indonesia. Bahkan secara politik lebih tepat, sepertinya terdengar sejajar dengan istilah era keterbukaan yang lagi hot-hotnya diluncurkan di dalam pencapaian good governance. Dengan kata lain memperkenalkan konsep perangkat lunak merdeka dengan terminologi Open Source akan lebih mudah di-toleh ketimbang menggunakan istilah Free Software. Ini pengalaman saya sejak tahun 99-an kelilin Indonesia untuk melakukan advokasi perangkat lunak merdeka ini.

Walaupun demikian, kata Open sendiri juga memiliki beberapa hal yang berbahaya. Misal istilah agak menyesatkan Open License dari Microsoft Microsoft Open License [ http://www.microsoft.com/licensing/default.mspx]. Bahkan keterbukaan source code pun memiliki persyaratan yang tidak sama dan belum tentu Open Source, seperti yang dilakukan di Shared Source License nya [ http://www.microsoft.com/resources/sharedsource/default.mspx], yang tidak memberika kebebasan besar untuk melakukan pengembangan atau derivatif. Brand Open sendiri dimiliki oleh Open Group [http://www.opengroup.org/openbrand/].

Walaupun dalam urusan sosialisasi saya lebih suka menggunakan istilah Open Source, tapi untuk urusan lisensi saya lebih menyukai lisensi ala GPL-nya FSF, yang menjaga agar kebebasan itu tetap terjaga dan mengalir. Terutama untuk perangkat lunak yang dikembangkan dengan duit rakyat (misal pada proyek pemerintah). Memang lisensi yang disepakati oleh Open Source Initiative [ http://opensource.org/licenses/index.html] tidak semuanya bernafas seperti GLP-itu. Berbagai lisensi itu mencoba mengakomodasi kepentingan berbagai pihak yang ingin membebaskan source code-nya tetapi tetap memberikan manfaat dalam bentuk lain (misal nama, integritas penulis dan lain sebagainya). Tetapi lisensi yang tidak memaksa orang untuk menjaga kebebasan seperti halnya lisensi mirip BSD kurang begitu saya sukai dalam penggunaan luas (terutama untuk dana dari proyek pemerintah). Karena lisensi semacam ini memungkinkan orang meng-hijack atau sekedar menjadi free rider. Itu juga yang membuat saya lebih mendorong penggunaan GNU/Linux ketimbang FreeBSD. menjadi free rider. Ini terlihat dari pembentukan komunitas GNU/Linux di Indonesia lebih dari sekedar pencarian solusi alternatif berdasarkan hal teknis saja. Karena warna lisensi GPL-lah yang mendorongnya. Sadar atau tidak sadar, diakui atau tidak diakui.

Menjelaskan suatu konsep baru tanpa contoh yang jelas sangat sulit di masyarakat luas di Indonesia. Apalagi di dunia komputer, pengguna atau bahkan pengembang tidak (atau) belum mau peduli dengan hal-hal seperti lisensi ini. Jangankan beda antara lisensi GLP, LGPL, BSD, MIT atau lainnya yang satu keluarga lisensi Open Source, antara perangkat lunak closed source dan open source pun tak dibedakan. Semuanya dengan santainya disalin dan disebarkan begitu saja. Termasuk juga dilakukan oleh warga Lembaga pendidikan (pengajar dan siswa/mahasiswa), yang seharusnya mengajarkan etika kepada anak didiknya. Bahkan seringkali pengajar setengah memaksa dan mencekoki anak didiknya dengan program yang tak mungkin dibeli dan akhirnya dibajak oleh anak didiknya. Jadi harapan saya dengan penggunaan terminologi yang tepat akan dapat mengetuk hati dan membuat perhatian menoleh dan mudah-mudahan bisa difikirkan, direnungkan dan dipahami.

Maklum ini Indonesia bung !!

Thought is subversive and revolutionary, desctructive, and terrible; thought is merciless to privilege, established institutions, and comfortable habit. Thought looks into the pit of the hell and is not afraid. Thought is great and swift and free, the light of the world, and the chief of glory of man

Bertrand Russel

››Daftar Lamunan

Beragam pikiran yang ada di kepala saya. Dari hal yang ringan, sampai ke permasalahan yang agak serius. Tulisan Lamunan hari-hari lalu dapat di temukan di koleksi Lamunan yang terdahulu. Beberapa telah diterbitkan di berbagai media massa.

Pengelolaan pustaka menggunakan BibTeX
MGTK - Madhava Goes To Kindergarten
Liburan tanpa Linux terasa hampa
Semakin banyak semakin tak tampak
Load balancer handal, murah meriah dengan Open Source
Perlu perhatikan mayoritas, jangan abaikan minoritas
Kerangkeng virtual demi keamanan
Malu-malu kucing untuk buka-bukaan
IGOS terseok-seok pantas saja BBM naik
Perang dokumen secara TETE (TErbuka dan TErtulis)
Tik.. tik .. tik.. ka booom.
Akademisi tak perlu rebutan pepesan kosong
Lembaga pendidikan berulah, polisi dan warnet kena batunya
Presiden SBY jangan ulangi kesalahan ABRI
Girl from Ipanema dan Linux
Erlang/OTP - Open Telecommunication Platform
Mozart tapi bukan musik atau coklat
Membuat Windows XP seenak GUI di Linux
Kenanganku tentang Banda Aceh
Distro ini.. distro itu .. atau sekedar distro lain
Mengapa Open Source bukan Free Software ?
Bekerja .. berhenti .. dan lanjut kembali
Perpustakaan yang dilupakan para techie TI
Jangan sinis dulu dengan proyek plat merah
Hack saja ! Maaf ini bukan soal KPU
Menggambar diagram dengan DIA
Buku GeexBox
Aceh Tsunami
Slashdot
Jangan lupakan manusia ketika menyongsong abad informasi
Media online sebagai suatu sistem kritis
Pergeseran bentuk media on line
Dari Antartika hingga terbang ke Mars
Mengapa memiliki kebijakan Open Source ?
Di persimpangan jalan masa depan TI
Miskin koq boros
Surat terbuka kepada pakar TI di KPU
Bir, sepak bola dan mitos sang pakar
Awas raja anda
Boot, go and agogo
New kernel is coming
Robot-robot yang lucu
Komputer di dalam komputer
Abrakadabra .. terbukalah kotak wasiat
Bola Kristal .... adakah trend GNU/Linux ?
Turut berduka atas korban bom di Bali
Holopis Kuntul Baris
Bibit itu bernama WINBI
Distro bahasa Indonesia .. membodohi bangsa ?
Pengumuman ganti domain
Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menuju Uni
Kue-kue siapa mau beli
Please No !! Smoke on the water
Compiler construction
Mengapa SPSS, mengapa Matlab ?
Open Source dan pemerintah
Ratapan mahasiswa akibat paksaan dosen untuk membajak
Juragan Dr. Abe pulang kampung
Temu Industri dan Informatik
Microsoft mulai menyerang GNU/Linux

››Photos

Test your Web Hosting Speed