›› Lamunan hari ini

Lembaga pendidikan berulah, polisi dan warnet kena batunya

Ketika ramai-ramainya issue sweeping warnet, banyak orang yang ramai berpolemik, baik di milis maupun media massa. Dari berbagai polemik ini, sedikit pihak yang mencoba mencari akar permasalahannya terbentuknya situasi yang rumit ini. Banyak orang menyalahkan oknum polisi yang mencoba mencari kesempatan, banyak yang menyalahkan oknum warnet yang mencoba menyogok polisi. Ada juga yang menyalahkan MS/BSA karena memanas-manasi polisi untuk melakukan sweeping. Banyak pihak yang mencoba melakukan pembenaran kegiatan pembajakan tersebut, entah dengan alasan mahalnya perangkat lunak hingga hingga alasan historis. Sayang sekali sebagian besar hanya tetap menggunakan asumsi bahwa penggunaan perangkat lunak proprietary closed source itu adalah satu-satunya kemungkinan cara untuk menggunakan komputer. Lupa atau mengganggap tidak adanya solusi alternatif, misal dengan menggunakan perangkat lunak Open Source.

Tidak heran, bila dalam polemik ini akhirnya banyak pihak yang cuci tangan saling tuding cari selamat. Polisi cuci tangan, dan mengatakan tidak memerintahkan anak buahnya di lapangan untuk melakukan sweeping tersebut. BSA dan MS merasa tidak pernah mendorong polisi melakukan hal itu. Dan yang paling konyol bahkan BSA mengatakan masih tutup mata dengan pembajakan di lembaga pemerintahan dan polisi. Tapi ada juga pihak yang tidak cuci tangan, malah jadi cuci piring, atau dengan kata lain jadi repot. Pihak itu adalah AWARI dan komunitas Open Source. Komunitas Open Source bekerja sama dengan Menristek dan Menkominfo serta beberapa Universitas meluncurkan distro Open Source untuk Warnet yang diberi nama WaroengIGOS. Bahkan Universitas Gunadarma mencurahkan dana untuk membayar pengembang yang mengembangkan distro ini serta melakukan pelatihan ke warnet.

Mungkin kita perlu merenung, instrospeksi, dan kontemplasi. Sebetulnya pihak manakah yang paling bersalah dalam terbiasanya masyarakat akan penggunaan perangkat lunak bajakan ini ? Dan mengapa masyarakat terbiasa dengan perangkat lunak tersebut saja, dan menutup mata pada solusi alternatif. Sehingga main tabrak saja, tidak peduli lisensi dan harga sesungguhnya. Bila kita melihat pelaksanaan pendidikan TI di Indonesia, ada beberapa hal yang menjadikan hal ini terjadi.

Pertama, masih sedikit yang mengajarkan pengetahuan tentang lisensi ataupun HAKI secara umum. Bahkan di dalam lembaga pendidikan yang memberikan mata kuliah Komputer dan masyarakat masih juga sedikit yang membahasnya. Bahkan yang lebih me-nyeramkan banyak dosen atau pengajar bidang TI sama sekali awam mengenai masalah lisensi ini. Masalahnya bagaimana lembaga pendidikan tersebut dapat memberikan contoh lisensi-lisensi perangkat lunak propiretary ? Kalau program yang digunakannya saja sebagian besar adalah bajakan yang jelas tidak memiliki teks lisensi, ataupun tidak tertarik untuk dibacanya. Bahkan banyak pengajar tidak peduli, akan perbedaan jenis lisensi ini. Dunia pendidikan kita menjadi lupa akan tujuan pendidikan itu sendiri yang bukan saja memberikan bekal ketrampilan, tetapi memberikan nilai-nilai sosial positif kepada kehidupan masyarakat luas.

Kedua, Banyak perguruan tinggi (bahkan PTN yang ternama di Indonesia) menganggap bila sudah memiliki Microsoft Campus Agreement (MCA) maka persoalannya beres. Tidak peduli program proprietary lainnya adalah bajakan. Tidak peduli AutoCAD, SPSS, Matlab, ArcView yang digunakan para dosen dan mahasiswa adalah bajakan. Tidak peduli apakah nantinya mahasiswa setelah lulus, tetap dapat membeli perangkat lunak tersebut dengan harga normal (bukan harga mahasiswa). Bukannya berprasangka buruk, tapi rasanya kecil sekali kemungkinan bila untuk program yang lebih murah seperti MS WIndows XP saja membajak, apalagi untuk program yang lebih mahal seperti SPSS dan Matlab.

Ketiga, masih sedikit lembaga pendidikan yang mengajarkan penggunaan perangkat lunak alternatif yang bisa digunakan untuk menutupi kebutuhan pekerjaannya tapi tanpa perlu membajak. Lembaga pendidikan turut serta dalam menutup mata masyarakat akan solusi alternatif, bukannya malah membuka mata akan solusi alternatif. Bandingkan dengan lembaga pendidikan di negara Afrika seperti Namibia dan Uganda yang walaupun pemerintahnya mendapatkan donasi dari Microsoft, tapi lembaga pendidikannya aktif mengajarkan solusi alternatif. Karena mereka sadar, masyarakat tak mungkin membeli perangkat lunak dengan harga yang tinggi itu. Berbeda sekali dengan kondisi di Indonesia. Bila warga sekolah atau kampus yang relatif lebih terdidik saja, masih buta akan hal itu, bagaimana dengan masyarakat luas. Orang yang hanya menggunakan perangkat lunak itu karena melihat orang yang lebih terdidik menggunakan komputer. Bila lembaga pendidikan masih sedikit mengajarkan solusi alternatif tapi banyak mengajarkan pembajakan dan penggunaan perangkat lunak bajakan, maka tidak heran masyarakat akan seperti ini, melakukan pembajakan besar-besaran tanpa rasa bersalah.

Seringkali lembaga pendidikan beralasan bahwa melakukan pembajakan karena tidak ingin mahasiswa ketinggalan belajar teknologi informasi. Seringkali rusaknya mental (kebiasaan tidak menghargai karya orang lain), diabaikan hanya demi trampilnya anak murid menggunakan suatu jenis perangkat lunak. Sekali lagi, jangan lupakan akar permasalahan dari pembajakan terletak di lembaga pendidikan. Masyarakat hanya meniru apa yang dilakukan oleh orang yang dianggapnya terdidik. Dan sayangnya lembaga atau orang terdidik itu, menghalalkan pembajakan perangkat lunak.

Jadi Warnet hanyalah korban dari lembaga pendidikan, bukan korban polisi. Di masa depan, lembaga pendidikan haruslah menyadari hal ini. Jangan jadikan polisi dan masyarakat luas seperti warnet korban keegoisan lembaga pendidikan untuk mempelajari penggunaan perangkat lunak tertentu. Jangan jadikan warnet tidak memiliki pilihan harus memberikan aplikasi perangkat lunak yang diminta oleh para siswa/mahasiswa. Bila lembaga pendidikan tidak mampu memberikan solusi di situasi ini, janganlah beri contoh yang buruk ke masyarakat.

Thought is subversive and revolutionary, desctructive, and terrible; thought is merciless to privilege, established institutions, and comfortable habit. Thought looks into the pit of the hell and is not afraid. Thought is great and swift and free, the light of the world, and the chief of glory of man

Bertrand Russel

››Daftar Lamunan

Beragam pikiran yang ada di kepala saya. Dari hal yang ringan, sampai ke permasalahan yang agak serius. Tulisan Lamunan hari-hari lalu dapat di temukan di koleksi Lamunan yang terdahulu. Beberapa telah diterbitkan di berbagai media massa.

Pengelolaan pustaka menggunakan BibTeX
MGTK - Madhava Goes To Kindergarten
Liburan tanpa Linux terasa hampa
Semakin banyak semakin tak tampak
Load balancer handal, murah meriah dengan Open Source
Perlu perhatikan mayoritas, jangan abaikan minoritas
Kerangkeng virtual demi keamanan
Malu-malu kucing untuk buka-bukaan
IGOS terseok-seok pantas saja BBM naik
Perang dokumen secara TETE (TErbuka dan TErtulis)
Tik.. tik .. tik.. ka booom.
Akademisi tak perlu rebutan pepesan kosong
Lembaga pendidikan berulah, polisi dan warnet kena batunya
Presiden SBY jangan ulangi kesalahan ABRI
Girl from Ipanema dan Linux
Erlang/OTP - Open Telecommunication Platform
Mozart tapi bukan musik atau coklat
Membuat Windows XP seenak GUI di Linux
Kenanganku tentang Banda Aceh
Distro ini.. distro itu .. atau sekedar distro lain
Mengapa Open Source bukan Free Software ?
Bekerja .. berhenti .. dan lanjut kembali
Perpustakaan yang dilupakan para techie TI
Jangan sinis dulu dengan proyek plat merah
Hack saja ! Maaf ini bukan soal KPU
Menggambar diagram dengan DIA
Buku GeexBox
Aceh Tsunami
Slashdot
Jangan lupakan manusia ketika menyongsong abad informasi
Media online sebagai suatu sistem kritis
Pergeseran bentuk media on line
Dari Antartika hingga terbang ke Mars
Mengapa memiliki kebijakan Open Source ?
Di persimpangan jalan masa depan TI
Miskin koq boros
Surat terbuka kepada pakar TI di KPU
Bir, sepak bola dan mitos sang pakar
Awas raja anda
Boot, go and agogo
New kernel is coming
Robot-robot yang lucu
Komputer di dalam komputer
Abrakadabra .. terbukalah kotak wasiat
Bola Kristal .... adakah trend GNU/Linux ?
Turut berduka atas korban bom di Bali
Holopis Kuntul Baris
Bibit itu bernama WINBI
Distro bahasa Indonesia .. membodohi bangsa ?
Pengumuman ganti domain
Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menuju Uni
Kue-kue siapa mau beli
Please No !! Smoke on the water
Compiler construction
Mengapa SPSS, mengapa Matlab ?
Open Source dan pemerintah
Ratapan mahasiswa akibat paksaan dosen untuk membajak
Juragan Dr. Abe pulang kampung
Temu Industri dan Informatik
Microsoft mulai menyerang GNU/Linux

››Photos

Test your Web Hosting Speed